Sabtu, 22 Februari 2014

Pameran Seni Rupa BomWaktu12: Gilir Jaga



Pembukaan Pameran :
Jumat 21 Februari 2014, Pukul 19.30WIB
di Jogja National Museum (JNM), Jl. Prof. Ki Amri Yahya No.1 Gampingan, Wirobrajan, Kota Yogyakarta
Kuratorial pameran: Ristiyanto Cahyo Wibowo
Dibuka oleh: Lenny Ratnasari Weichert
Pengisi Acara :
-Tarian oleh Elan Fitra Dianto dan Muhammad Khaidir Ali
-Musik oleh Gudang Garam

Pelaksanaan Pameran :
Jumat 21 Februari – Senin 24 Februari 2014
Jogja National Museum (JNM)
Jl. Prof. Ki Amri Yahya No.1 Gampingan, Wirobrajan, Kota Yogyakarta

Gilir Jaga
Menjaga adalah sebuah tindakan yang lahir dari kesadaran, sadar karena memiliki sesuatu yang penting, maka perlu dijaga. Negara Indonesia mempunyai angkatan bersenjata, Kraton Yogyakarta mempunyai abdi dalem, bahkan kampung pun memiliki anggota siskamling yang bergiliran melakukan ronda. Walau skalanya berbeda, tapi kesadaran dan tujuannya sama yaitu untuk melindungi.
Demikian halnya dengan harta berharga yang dimiliki bangsa Indonesia yang perlu dijaga, yaitu warisan budaya dan kearifan lokal. Sedari dulu dinamika kebudayaan dengan berbagai polemiknya telah menyadarkan anak-anak bangsa akan kebutuhan untuk turun melindungi dan melestarikan.
Tajuk “Gilir Jaga” sebagai tajuk pameran seni lukis kelompok BomWaktu12 mahasiswa/i lukis ISI Yogyakarta angkatan 2012 merupakan sebuah tantangan bagi kami para perupa dalam memaknai peran sebagai generasi muda yang sedang mendapatkan ‘tongkat estafet’ untuk melindungi dan menjaga nilai-nilai esensial yang bangsa Indonesia miliki, agar perihal kekayaan Indonesia yang kita percayai dan banggakan sedari kecil tidak menjadi sekedar memori di kemudian hari.

Sekilas Tentang BomWaktu12
BomWaktu12 adalah nama kelompok angkatan mahasiswa/i lukis angkatan 2012, ISI Yogyakarta. Terbentuk oleh kebersamaan yang hampir dua tahun terjalin, meskipun terdiri dari berbagai macam latar belakang kultur dan sosial yang berbeda, kesadaran dalam berproses bersama selama ini membuat kami semakin yakin untuk melangkah dan membentuk suatu kelompok berkesenian.
Istilah BomWaktu12 sendiri lahir secara spontan dari hasil diskusi bersama, diawali dengan pemikiran bahwa angka 12 (diambil dari angkatan 2012) memiliki kedekatan dengan formulasi waktu: 1 tahun terdiri dari 12 bulan, dalam lingkar jam juga terdiri dari 12 jam. Ketika berbicara tentang waktu, maka kita tak bisa lepas dari yang namanya proses, perjalanan dan pengalaman. Demikian kami menyadari bahwa keberadaan kami sebagai mahasiswa seni merupakan sebuah proses untuk menemukan pintu-pintu selanjutnya menuju eksplorasi yang lebih mendalam.
Sebagaimana bom waktu yang dirakit memiliki potensi ledak, kamipun percaya bahwa setiap orang memiliki potensi diri yang bisa dimaksimalkan dengan semangat, ketekunan dan kerja keras guna mencapai kualitas yang mumpuni. Sehingga pada saatnya nanti, setiap dari kami bisa memberikan kontribusi positif yang mengejutkan.

Sambutan oleh Mikke Susanto (Staf Pengajar FSR Institut Seni Indonesia, Yogyakarta)
Pameran sebagai ruang besar untuk mengetengahkan gagasan, memanajemen berbagai maksud dan merepresentasikan objek dan teks, telah menjadi alat ampuh yang harus dilalui dan dilakukan oleh perupa. Tetapi ingat, tak selamanya seorang (calon) seniman mampu menggelar pameran dengan baik. Karena itu pameran yang memiliki fungsi untuk memanejemen berbagai maksud dapat dijadikan bukti betapa banyak hal yang masih perlu dikelola oleh para seniman atau calon seniman.
Persoalannya sekarang, bila menukik pada forum bernama kampus, maka kita tengah melihat sebuah dunia yang lebih kecil namun terdidik. Forum itu terisi oleh individu yang sesungguhnya memiliki kemampuan lebih daripada orang-orang yang ada di luar kampus (baca tidak kuliah). Selayaknyalah bahwa seorang mahasiswa, memiliki daya juang, daya pikir, daya kerja dan daya kritis lebih untuk memecahkan masalahnya sendiri, kelompok, masyarakat atau bangsanya. Pameran apapun bagi setiap individu perupa adalah penting, apalagi bagi mahasiswa seni. Jika setiap mahasiswa mampu menggelar aksi budaya yang berguna bagi bangsanya, itu sesungguhnya harapan setiap orang. Pameran, jika dikerjakan bersama-sama meskipun itu pameran tunggal, bukanlah hal yang sulit untuk dikerjakan. Walhasil, tidak ada hal yang tidak mungkin, apalagi bagi seorang mahasiswa.
Toh pemikiran saya ini tidak selamanya berhasil tertanamkan di setiap individu mahasiswa. Banyak diantara mereka yang sesungguhnya tak benar-benar berniat bekerja sebagai panitia atau memberi dukungan maksimal. Maklum, mungkin diantara mereka ada yang lebih ingin berkarya, daripada sebagai organisator acara. Maka pameran dapat memberi bukti atas apa yang telah dipelajari dari ruang kelas. Ilmu-ilmu yang diserap baik berupa keterampilan teknik, keterampilan sosial, keterampilan konsep dan sebagainya, sebaiknya menjadi dasar bagi para mahasiswa. Memang tidak setiap mahasiswa memiliki kemampuan yang sama.
Seperti halnya ilmu, pameran berkelompok ibarat perpaduan perisai dan pedang. Dua mata membaur: sang lemah dan sang lebih menjadi satu. Kelemahannya adalah muncul batas antara penggagas-pelaksana-peserta. Kelebihannya adalah muncul kebersatuan hak yang saling mengisi. Berkelompok tentu bukan sekadar aksi kumpul-kumpul, tetapi berlatih menghadapi masalah. Karena sebuah wujud yang paling hakiki dari masalah “berkelompok” ini adalah mensiasati masalah dan menghasilkan perangai kelompok.
Saya yakin Kelompok “Bom Waktu12″, sebuah angkatan yang berasal dari kampus Sewon ini mampu mengartikulasi usulan di atas serta menggelar kemampuannya untuk turut serta memberi khasanah bagi seni rupa Indonesia. Perlu kerja keras (sekali) untuk bisa menjadi bagian dalam perkembangan seni rupa di Indonesia ataupun internasional. Kemauan dan pendalaman kemampuan serta usia muda bisa menjadi modal untuk mencapai itu semua.
Terakhir, adalah sebuah ungkapan berupa tantangan: pameran adalah buah simalakama. Jika telah berani berpameran berarti Anda telah berani menyatakan diri (untuk menjadi seniman). Jalan seniman adalah jalan yang kompleks. Di sisi lain, pameran bisa menjadi ruang yang mampu memperlihatkan eksistensi diri, namun menjadi seniman harus dipercaya semoga bukanlah jalan atau pilihan terakhir bagi kalian. Maka, jangan sampai tersesat dan salah jalan…
Selamat datang dan berpameran. +++

Perspektif Peradaban (Pengantar Kuratorial oleh Ristiyanto Cahyo Wibowo)
Tepat tanggal 9 Januari 2014 panitia pameran angkatan 2012 Seni Lukis ISI Yogyakarta, mengajak rist untuk membicarakan latar belakang pameran yaitu menjaga nilai-nilai kearifan lokal. Mereka menjelaskan bahwa visinya adalah memberikan kontribusi positif dalam dinamika kebudayaan. Artinya, mereka menyadari bahwa ada hak yang ingin dilaksanakan dalam melintasi formulasi waktu dengan segala keberagaman, bermacam warna, pendapat dan keterampilan mengolah ide maupun medium. Tentunya hal ini akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang paling mendasar tentang budaya, sampai wacana ekspor kebudayaan. Jika pembaca sudah membuat pertanyaannya, semoga mendapatkan jawaban melalui karya seni di dalam ruang pameran. Tetapi, jika pembaca menilai bahwa pameran ini belum sesuai dengan konteks kebudayaan yang dimaksudkan, ajak rist dan mereka semua untuk bekerja sama dari kejujuran hati menyatakan kebenarannya. Kritikan akan berarti jika dilengkapi dengan opini. Begitu juga pujian, justru akan melemahkan eksplorasi dan eksistensi diri jika tidak disikapi secara kritis.
Budaya menjadi konsep keadaan mengenai hal-hal dasar, yang sangat penting dan bernilai di dalam kehidupan manusia. Pengertian ini, yang menjadi materi untuk dibahasakan secara visual oleh mahasiswa/i angkatan 2012 seni lukis ISI Yogyakarta. Proses kinerja tulisan adalah hasil percakapan ringan, beserta perwakilan mahasiswa/i seni lukis yang dibantu panitia inti dengan mendatangi studio atau tempat tinggalnya. Serta, melihat image karya yang dikirim kepada sekretaris pameran. Dengan metode ini, rist mendapatkan penjelasan autentik. Minimal mereka telah menyampaikan sewajarnya dan menunjukkan kualitas karyanya.
Berdasarkan pada fakta visual dan percakapan dengan mereka dalam mengolah tema pameran yaitu ‘Gilir jaga’, hasilnya bermacam-macam sesuai dengan persepsi, pengalaman, pemahaman materi, pemberitaan, kultural daerah berasal, maupun untuk kebutuhan artistik. Lukisan berjudul Lost Memori, sikap ingin tahu kemajuan teknologi, namun tetap mempertahankan nilai-nilai tradisional yang direpresentasikan dengan potret adiknya. Invitations, bermakna bahwa kebudayaan adalah saat ini diri berada. Bertumpu pada sejarah seni rupa, artefak dan spiritualisasi, untuk kemudian dikomposisikan dalam medium. Karya tersebut sebagai penghargaan dan rasa hormat yang mendalam kepada para pendahulu, atas jasa-jasanya bagi ilmu seni serta pembaharuan-pembaharuan seni rupa sampai hari ini. Dua karya tersebut dapat mewakili dan penanda bahwa nilai kebudayaan akan mengalami perubahan, untuk itu harus optimistis. Terlindungi adalah Karya yang syarat tradisi Bali, ajaran Hindu, dan Dewa Shiwa yaitu menjaga sapi sebagai binatang sakral seharusnya mendapatkan perlindungan. Si Penjaga Hutan, melestarikan kualitas seni dekoratif Bali dengan Sigar mangsi pada visualitas hutan dan kepunahannya. Pendidikan muatan lokal kepada anak-anak usia formatif, dicontohkan pada lukisan Layangan lele. Want to be with you menekankan esensi permainan tradisional asli, serta berkeinginan untuk menghidupkannya kembali. Fenomena sosial media yang bermakna ganda antara meluaskan komunikasi dan membuat apatis, pada karya Two faces of Socmed. Sedangkan Kemanusiaan di nomor sekian, memuat pemberitaan hangat tentang pengusiran orang rimba dari hutan untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit. Peristiwa ini telah mengorbankan nilai kemanusiaan demi keuntungan sepihak. Manusia tidak lebih berharga dari tanaman sawit. Karya tersebut berupaya menyampaikan bahwa, bagaimanapun orang rimba membutuhkan hutan sebagai rumahnya. Manusia dan Guru Terbaiknya, tentang gunung berapi dan inti sari alam. Bahwa Kondisi alam bereaksi diluar nalar manusia. Get Away, memvisualisasikan ajakan bagi semuanya untuk introspeksi, agar senantiasa menjaga alam. Lestarikan Alam dengan menggunakan metafora kertas, yaitu jika tidak pernah dirawat akan menjadi kertas yang pudar dan rapuh. Budaya itu seperti bunga yang harus selalu disirami pada karya Nek Ilang Eman­Eman, Dirumat Sik Tetanan. Adapun karya instalasi yang memfokuskan pada stupa candi dengan judul Candi Lanang adalah ritual berdoa dalam wujud visual.
Pemilihan bahan dan media pada karya-karya mereka bervariasi serta teristimewa, untuk memperlihatkan keterampilan yang prima. Beberapa memilih menggunakan warna monokrom untuk mengontrol, memfokuskan, mencapai ketepatan image, menyerupai sejarah sampai merasa nyaman dalam pengerjaannya. Format karya dan elemen-elemen visual masih lazim, representatif dengan objek kebudayaan pada umumnya. Jika mau mencermati dan menggunakan pokok bahasan tertentu, serta aktif melatih kepekaan indra maupun motorik, niscaya dapat mewujudkan visualisasi yang tepat.
Prinsip mereka perihal kebudayaan di dalam pameran ini adalah menjaga dengan penuh pengertian, memelihara hubungan-hubungan manusia dan sekitarnya, adat-istiadat, maupun melihat situasi dan perkembangan. Itulah yang ingin disampaikan kepada masyarakat luas melalui aktivitas pameran angkatan 2012 seni lukis ISI YK, sebagai strategi dalam menyikapi nilai-nilai peradaban. Pencapaian saat ini, harus menjadi cambuk untuk terus belajar, produktif, berkarya dengan optimal dan berkualitas, serta berguna bagi siapapun. Penjelasan tersebut, sekiranya dapat mewakili dari keseluruhan materi karya-karya yang dipamerkan. Akan lebih baik, para pembaca maupun audiensi terhormat berkenan untuk mengenal mereka semua. Sehingga terjalin dialektika yang dapat dijadikan bahan pembelajaran, terlebih pembaharuan gagasan maupun visualitas.
Sepatutnya BOMWAKTU12, mahasiswa/i angkatan 2012 Seni Lukis Institut Seni Indonesia Yogyakarta berani membebaskan diri, mengetahui kelebihan dari setiap potensi dengan tetap tunduk hormat kepada diri sendiri, menghargai alam semesta dan toleransi dari segala perspektif. Pasti suatu saat nanti, semuanya meledak di wilayah berkesenian yang kalian pilih.
——
Ristiyanto Cahyo Wibowo (ristiyantocw@gmail.com, 081 802 686 916).
Rist menyelesaikan pendidikan Mayor Seni Lukis di Institut Seni Indonesia Yogyakarta pada tahun 2008-2013 dengan predikat kelulusan Cumlaude. Menyelenggarakan Pameran tunggal tiga kali, aktif pameran bersama di negara Berlin, India, serta kota-kota di Indonesia. Tahun 2008 menjalani program Residensi di Tembi Rumah Budaya, dan tahun 2010 di Rumah Seni Cemeti pada Program “+Road” Indonesia-Myanmar. Sejak tahun 2007-2013 rist mendapatkan 9 penghargaan di bidang seni dan jurnalistik.

2014 Jogja Air Show



Event tahunan “Jogja Air Show 2014″
Menampilkan pertunjukan atraksi Aeromodelling, XC Paramotor, Paralayang, Gantole, Terjun Payung, Terbang Layang, Joy Flight, Aerobatik Pesawat Mustang, Pameran Statik, Lomba Foto, dan Live Musik.

Jogja Air Show 2014 juga akan diramaikan peserta dari berbagai negara seperti Malaysia, Thailand, Filipina, Australia dan Korea.
More Info @Adisutjiptoaero

Waktu dan Tempat :
Jumat 28 Februari – Minggu 2 Maret 2014 | jam 8.00-17.00 wib
di Pantai Parangtritis – Pantai Parangkusumo – Pantai Depok, Bantul